Civilization VI | Game Strategy Online

sid meier's civilization VI

Ah, Sid Meier’s Civilization, kita bertemu lagi. Seri game strategi dari 2K dan Firaxis ini merupakan standar dari genre 4X. Dalam game ini kamu bermain mengembangkan suatu peradaban dari zaman kuno hingga mencapai luar angkasa.

Selain legendaris sebagai permainan strategi klasik yang sudah bertahan selama 25 tahun, seri ini juga terkenal karena membuat pemainnya pintar membohongi diri sendiri. “Satu putaran lagi saja.” “15 menit lagi lah.” “Masih sore kok, bisa lanjut lagi.” Dan ketika mengengok ke jam, tak tahunya sudah jam 3 pagi. Hmph.

Tahun ini akhirnya seri Civilization mencapai iterasi keenamnya dalam wujud Sid Meier’s Civilization VI. Ketika diberi kesempatan untuk mencobanya, saya sudah siap perang. Pasang alarm, betulkan jam, kencangkan sabuk pengaman. Oke, mari kita coba.

Hasilnya: Jam menunjukan pukul 12 malam, besok saya harus bangun pagi, tapi tentara Sumeria sudah mulai mendekati pinggiran kota terbesar saya, Athens, dan masih butuh tiga putaran lagi sampai saya bisa membangun unit ofensif di kota itu.

Itu pun mungkin hanya pemanah lagi. Kalau saya bisa membuat unit penembak, Sumeria pasti sudah dikalahkan sekarang, tapi untuk itu saya butuh bubuk mesiu, dan tidak ada mesiu di benua ini. Masih butuh empat putaran lagi sampai kapal laut saya sampai ke benua sebelah, dan…Jam menunjukan pukul 12:30 dini hari.

Berbagai cara mengembangkan peradaban

Jujur, saya sudah menghabiskan terlalu banyak jam untuk bermain Civilization VI, tetapi saya sangat menikmati setiap saatnya. Sama menikmatinya seperti seorang jenderal yang mengatur pergerakan tentaranya, atau seorang ahli ekonomi yang menghitung-hitung implikasi dibangunnya distrik pasar baru di kota nun jauh di ujung samudra, atau seorang sejarawan yang cekikikan saja melihat Piramida Giza dibangun di sebelah Teater Bolshoi yang menjadi rumah karya besar Geoffrey Chaucer. Atau sebagai semuanya sekaligus.

Sebagai semacam simulasi peradaban manusia, Civilization merupakan game dengan cakupan yang begitu besar. Sulit untuk membicarakan gameplay Civilization VI tanpa menjadi seperti manual “Cara Bermain.” Secara umum, saya merasa mekanisme game ini berjalan mulus dan mengandung banyak peningkatan jika disandingkan dengan Civilization sebelumnya.

Dibandingkan game strategi lain, Civilization VI cukup mengakomodir pemain yang tidak suka berperang dan ingin memfokuskan permainan ke aspek lain. Selain menang lewat dominasi, kemenangan bisa dicapai lewat pencapaian budaya, agama, dan teknologi.

Mekanisme non-peperangan juga lebih dikembangkan dalam iterasi terbaru ini, dan memberi lebih banyak ruang untuk berstrategi dan membuat peradabanmu unik. Sistem pemerintahan, misalnya, tidak lagi berupa pilihan kaku seperti di game sebelumnya, tetapi memberikan pemain pilihan bonusnya sendiri.

Sistem keagamaan sekarang tidak hanya terpaku pada agama-agama yang ada dalam sejarah dan lebih berfokus pada bonus-bonus terpisahnya. Bonus-bonus ini bisa dipasangkan ke agama apa pun yang ditemukan di peradabanmu.

Pembangunan kota juga sekarang dibuat lebih strategis dengan adanya sistem distrik. Dengan adanya sistem ini, sebuah kota harus bisa menyebar ke luar heksagon awalnya, dan heksagon yang tidak mengandung sumber daya pun bisa menjadi bagian penting dari strategi permainan.

Perang tak pernah berubah

Walaupun sistem lainnya banyak mendapat perkembangan, peperangan masih merupakan bagian terbesar dari Civilization VI. Hal ini terutama terlihat dari diplomasi antar-peradaban dan gerak gerik AI musuh. Entah apa saya hanya kurang beruntung saat bermain, tetapi sangat sulit untuk menjadi teman semua orang, atau bahkan teman satu orang saja.

Apa pun yang dilakukan untuk menguntungkan peradaban sendiri pasti akan memberi efek samping yang merugikan peradaban lain. Seberapa dekatnya saya dengan peradaban musuh, mereka pasti tetap saja mencari celah untuk menjatuhkan saya, dan tips yang ada selalu secara implisit mengingatkan kalau kita semua bersaing di sini.

AI di Civilization VI dilengkapi dengan sistem Agenda yang menampilkan apa yang mereka sukai dari peradaban orang lain. Secara teori ini adalah hal bagus karena memberi para AI semacam sifat unik. Tetapi dalam praktiknya fitur ini hanya menjadi penganggu yang membuat peradaban musuh semakin bertingkah aneh, semakin sulit berteman, dan alhasil, semakin senang berperang.

Gameplay kompleks, dan presentasi yang membantu

Tampilan awal Civilization VI mungkin akan terlihat berantakan dengan warna-warninya. Ada berbagai angka di pojok, berbagai tombol di pojok lain, dan ketika mengeklik satu tombol, keluar layar dan berbagai angka lagi, seringkali dengan saling bersebelahan dan kadangkala bertumpuk-tumpukan.

Tetapi, setelah bermain beberapa lama, sistem antarmuka di Civilization VI sebenarnya cukup efektif. Game ini juga saya rasa cukup mudah dipelajari langsung sambil memainkannya.

Tombol yang membawa ke putaran selanjutnya sekarang berbentuk suatu Tombol Ajaib besar di pojok kanan bawah. Ketika ada sesuatu yang bisa atau sebaiknya dilakukan sebelum putaran berakhir, tombol itu akan berubah fungsi membawamu ke urusan tersebut. Ini bisa berupa unit yang belum diberi perintah, riset teknologi selanjutnya yang belum dipilih, atau sistem apa pun yang baru muncul di putaran tersebut.

Sistem-sistem terpisah di Civilization VI ditampilkan ke pemain sedikit demi sedikit, sehingga pemain baru tidak dibuat (terlalu) kelabakan. Setiap sistem diperlihatkan dengan jelas baru ketika sudah relevan. Jadi. di awal permainan kamu tidak akan diributkan dengan masalah perdagangan atau diplomasi atau memilah-milah sistem pemerintahan.

Dengan bantuan Tombol Ajaib, juga tip-tip yang diselipkan langsung dalam antarmuka, berbagai layar dan angka-angka dalam game bisa dimengerti tanpa harus mengikuti tutorial eksplisit. Tetap ada beberapa trial-and-error tentu saja, dan beberapa sistem, seperti cara kerja Great People, masih kurang terjelaskan dan harus diraba-raba.

Seperti Civilization sebelumnya, Civilization VI juga menyediakan ensiklopedi dalam game. Ensiklopedi ini sayangnya sama sekali tidak membantu. Walaupun berisi fakta-fakta sejarah menarik, ada sedikit sekali informasi yang berguna untuk permainan.

Grafis kartun yang tetap indah

Civilization VI sempat menuai beberapa kritik karena memiliki tampilan yang lebih “kartun” dan tidak semegah Civilization V, tapi saya rasa justru tampilan kartun ini memberinya kekuatan tersendiri. Karena tidak harus mengejar ekspektasi “realisme”, Civilization VI bisa lebih fokus memberi tampilan yang menginformasi.

Warna-warni dunianya dapat membantu pemain membedakan keadaan antar heksagon, sumber daya, dan unit. Agak kekanak-kanakan? Mungkin, tapi ini juga game di mana ksatria berkuda yang tampil sebesar gedung bisa menang bertarung dengan tank. Seri Civilization tidak pernah begitu peduli dengan realisme, dan saya senang kali ini mereka memilih untuk bergembira dengan ketidakrealistisannya.

Saya juga senang karena Civilization VI berjalan mulus dan grafisnya tetap terlihat indah di komputer yang relatif lemah. Saya bermain di laptop dengan spesifikasi yang pas-pasan mencapai spesifikasi minimum, tetapi game berjalan dengan sangat lancar, walau dengan loading antar putaran yang cukup lama.

Waktu, waktu, waktu

Delapan jam bermain dan permainan saya baru memasuki abad ke-19. Peradaban Yunani saya baru saja memasuki zaman atomik, ucap teks yang terpampang di layar, walaupun tetangga-tetangga saya masih berperang dengan kesatria abad pertengahan. Kemenangan budaya sepertinya bisa dengan mudah saya raih, tapi itu mungkin masih butuh beberapa puluh putaran lagi. Jadi kira-kira saya butuh … empat jam lagi? Atau mungkin dua kalinya?

Ini game jangka panjang. Kecuali harimu benar-benar kosong, hampir tidak mungkin menyelesaikan satu permainan dalam satu kali duduk. Waktu permainan juga tidak dibantu dengan lamanya loading.

Loading antar putaran di awal permainan mungkin tidak menjadi masalah, tetapi seiring berkembangnya setiap peradaban dan semakin banyaknya unit yang mengisi peta dunia, loading akan mulai terasa sebagai beban. Dalam kondisi saya sekarang, mendekati akhir game dengan laptop yang spesifikasinya berhimpitan dengan kebutuhan minimum, lima putaran saja bisa memakan setengah jam di dunia nyata.

Untungnya, pemain masih bisa melihat-lihat dan mengecek keadaan ketika loading, jadi tidak semuanya dihabiskan menunggu. Tetap saja sih, seberapa lama pun waktu yang Civilization VI butuhkan, saya akan berikan, dengan hati-hati dan sambil melirik-lirik jam yang saya tahu akan diabaikan juga.

Kesimpulan

Sejauh ini saya bisa katakan Civilization VI tetap mengamankan posisi seri ini sebagai salah satu game strategi terbaik. Walaupun ada beberapa isu kecil, secara umum game ini mulus, hampir sempurna, dan merupakan peningkatan dari Civilization sebelumnya. Kualitasnya tidak bisa dipungkuri, walau saya setuju harga belinya, Rp600.000, memang cukup tinggi.

Bagi penggemar berat seri Civilization, iterasi satu ini sangat layak dicoba. Bagi kalian yang senang permainan strategi dengan bumbu sejarah, waktu luang yang cukup, dan kantung yang tidak tipis, Sid Meier’s Civilization VI sangatlah saya rekomendasikan. Hati-hati saja saat membohongi diri sendiri. “15 menit lagi saja” itu mantra palsu.